Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Apakah anda bahagia? Apakah Anda ingin bahagia? ‘Jangan lupa bahagia dan ngopi’, begitu suatu slogan dari sekelompok orang dalam mengimbangi aneka ‘tantangan kehidupan kini’. Yang menjadi pertanyaan: Apa itu bahagia dan siapa saja yang berbahagia dalam konteks kehidupan di era teknologi digital masa kini? Tentu ada macam-macam definisi, ukuran, dan batasan. Tergantung. Untuk sebagian orang Batak misalnya, bahwa ke-bahagia-an (hatuaon) dihubung-hubungkan dengan filsafat 3-H, yaitu memiliki: Hagabeon (keturunan), Hamoraon (kekayaan), dan Hasangapon (kekuasaan). Bagi orang lain, tentu berbeda lagi.

Nas renungan ini diacu dari sebagian khotbah Yesus di bukit (matius pasal 5-7) yang sangat populer, khas, dan inspiratif karena mengusung suatu paradigma baru Kerajaan Allah. Melalui khotbah-Nya di bukit, Yesus memang telah menawarkan sesuatu yang amat tidak lazim, tetapi sesungguhnya dapat merobah dunia ke arah yang pasti lebih baik, lebih benar, lebih adil, lebih tahan lama, dan lebih bermartabat; dan itulah paradigma Kerajaan Allah (Mat. 5-7). Di antaranya, dengan menawarkan segi hukum kasih sebagai hukum baru yaitu mengasihi musuh sebagai cara untuk menaklukkan hukum kekerasan atau hukum rimba (Mat. 5:43-44), dll.
Secara khusus nas khotbah renungan ini (Mat. 5:112) hendak memastikan secara Alkitabiah dan mengajak kita orang beriman untuk memahami, menghayati, dan menempatkan lebih tinggi apa kata YESUS mengenai BAHAGIA dan siapakah yang BERBAHAGIA secara Alkitabiah (Mat. 5:3-12; bnd. Luk. 6:20-23).

Yesus mengkhotbahkan Sabda Bahagia ini di bukit awalnya ditujukan kepada orang banyak dan para murid. Dalam Kitab Suci – dan dalam tulisan keagamaan lain, bukit/gunung memang kerap merupakan tempat istimewa untuk pewahyuan dari Allah. Dan ternyata bahwa sekumpulan besar ajaran Yesus diajarkan melalui khotbah di bukit yang tentu saja punya makna khusus. Yesus mengajarkan 9 (sembilan) SABDA BAHAGIA.

Setahu saya, bahwa sering diberi tugas kepada para pelajar sidi HKBP, antara lain untuk menghafalkan 9 Sabda Bahagia.

Yesus bersabda: (1) Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah – (yang kondisinya menuntut kepercayaan total kepada Allah), karena mereka hendak memiliki Kerajaan Sorga; (2) Berbahagialah orang yang berduka-cita karena akan dihibur; (3) Berbahagialah orang yang lemah-lembut karena akan memiliki bumi; (4) Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran karena akan dipuaskan; (5) Berbahagialah orang yang murah hati karena akan beroleh kemurahan; (6) Berbahagialah orang yang suci hati karena akan melihat Allah; (7) Berbahagialah orang yang membawa dan pelaku damai karena akan disebut anak-anak Allah; (8) Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, sebab mereka yang empunya Kerajaan Sorga; (9) Berbahagialah jika karena Yesus kamu dicela, dianiaya, dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Kebahagiaan yang dimaksudkan oleh Yesus sifatnya berlaku kini dan di masa mendatang. Yesus adalah jaminan kebahagiaan itu sendiri. Dan akhirnya bersuka-cita dan gembiralah karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi sebelum kamu.

Saudara-saudari, kiranya dapat dikatakan bahwa sejatinya agama Kristen adalah agama praksis karena dengan memraktekkan/melakukan pesan Sabda Allah, maka kemudian akan terasa dan ternyata ciri khas dan roh agama Kristen itu sendiri. Sembilan Sabda Bahagia dari Yesus kiranya menjadi program kerja dan menjadi semacam kartu identitas orang Kristen, begitu kata Paus Fransiskus. Anda mau bahagia? Tentu saja, bukan? Karena itu, marilah bergabung memahami, menghayati, dan melaksanakan pesan sabda bahagia dari Yesus dalam konteks kehidupan kita masa kini dalam dunia yang menderita. Salam bahagia. 

Sumber : hkbpjogja.org

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here