Kasih Karunia dan Damai Sejahtera dari Allah Menyertaimu
(1 Korintus 1:1-9)

 Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Tidak sedikit pengkhotbah atau pelayan Firman mengawali khotbahnya dengan suatu doa/salam Alkitabiah yakni dengan sebentuk ungkapan: ‘Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah dan dari Yesus Kristus hendak menyertai kamu …..’ (1 Kor. 1:3).

Ungkapan tersebut acap kita dengar dari pendeta/pengkhotbah untuk mengawali salam (doa) pembuka sebelum pembacaan nas dan pemberitaan Firman Tuhan. Dan salam sekaligus doa rasuli tersebut kiranya juga turut saya sampaikan dalam mengawali renungan ini: ‘… kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah dan dari Yesus Kristus hendak menyertai kamu …..’.

Saudara-saudari, istilah ‘kasih karunia’ sangat populer dalam Alkitab Perjanjian Baru karena muncul lebi dari 150 kali. Rasul Paulus menggunakan istilah ‘kasih karunia’ sebanyak 100 kali dan menjadi ciri khas bahasa teologis rasul Paulus. Alkitab menginformasikan bahwa istilah ‘kasih karunia’ yang sama dengan ‘anugerah’ (Yunani: ‘kharis’; Latin: ‘gratia’; Inggris: grace; berpadanan dengan istilah Ibrani: hén atau hèsèd) memang dihubung-hubungkan dengan Allah di dalam Yesus Kristus sebagai sumber kasih-karunia (anugerah) dan damai sejahtera. Allah adalah Allah yang penuh kasih karunia dan kebenaran serta sumber kasih-sayang yang tak berkesudahan dan tak habis-habisnya, yang ditujukan kepada umat manusia dan dunia ini, yang memuncak dalam nama dan peristiwa Yesus Kristus yang telah dinyatakan (epifani; teofani; Yoh. 1:14; Ef 1:6-7).

Selanjutnya, Alkitab menginfokan dan menegaskan bahwa istilah ‘damai sejahtera’ (Yunani: eirènè; Ibrani: syâlôm) adalah suatu keadaan di mana bukan hanya tidak ada perang atau kekacauan, melainkan juga suatu rasa ketenangan hati yang memang dimungkinkan oleh Allah sebagai sumber damai sejahtera melalui kehadiran kerajaan-Nya yang dinyatakan dalam diri Sang Terurapi (Mesias) melalui peristiwa Yesus Kristus sebagai Raja Damai. Melalui pengorbanan-Nya yang menyelamatkan, kiranya kita dimampukan untuk memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih karunia Kristus (Ef. 3:18).

Anugerah atau kasih karunia dari Yesus Kristus telah memperdamaikan umat manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia, bahkan dengan alam (Kol. 1:20). Damai yang diberikan-Nya bukanlah damai yang berasal dari dunia ini, melainkan damai sorgawi yang menyertai anugerah dari Roh Kudus yang tetap ada kendati umat manusia mengalamai aniaya. Yesus sebagai Raja Damai menghendaki murid-murid-Nya bersama orang beriman Kristiani menjadi pendekar damai sejahtera (Mat. 5:9); dan tidak hanya sekadar merindukannya dan bersalaman dengan sesamanya dengan ucapan syâlôm atau horas (Rm 1:7; 1 Kor 1:3; 2 Kor 1:2; Gal. 1:3; Ef. 1:2; Kol. 3:15; 1 Ptr 1:2; 5:14), tetapi turut memperjuangkannya.

Saudara-saudari, karena itu marilah kita mengaminkan bahwa kehidupan kita sebagai orang beriman masa kini adalah hanya karena kasih karunia (anugerah) dari Allah yang menyertai kita dan bukan karena kekuatan dan prestasi diri kita sendiri. Karena itu sebagai orang beriman, maka hendaknya kita semakin berbelas-kasih dan berbela-rasa dengan meneladani Yesus Kristus sebagai sumber anugerah dan belas-kasih. Kemudian, marilah kita juga mengaminkan dan menghayati bahwa Allah melalui Yesus Kristus telah mengusung damai sejahtera dan meminta kita menjadi ‘pendekar damai’ atau pelaku damai sejahtera di tengah dunia yang doyan ‘bertengkar dan perang’. Karena memang anugerah dan damai sejahtera dari Allah dan dari Yesus Kristus yang menyertai kita senantiasa lebih besar dari segala masalah yang kita hadapi. Salam.

Sumber : hkbpjogja.org

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here