Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Marilah bersyukur secara baru kepada TUHAN yang telah mengaruniakan Tahun Baru 2020 ini. Salah satu keprihatinan kita bersama dalam konteks Indonesia masa kini adalah krisis ekologis, selain ujaran kebencian, intoleransi, dan politik identitas. Berkait dengan perubahan iklim, wilayah Jabodetabek ‘mengawali pergantian tahun’ di penghujung akhir 2019 dan 1 Januari 2020 dengan curah hujan lebat yang telah menelan 40-an korban jiwa dan mengakibatkan lebih dari 100 ribu orang mengungsi, demikian catatan BNPB. Seturut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan ekstrim tersebut terjadi merata dengan intensitas tinggi mencapai 377 milimeter per hari, dan tercatat sebagai yang tertinggi dalam 154 tahun terakhir.

Pengalaman krisis ekologis tersebut, kiranya turut meningkatkan solidaritas kemanusiaan kita. Sebagai dampak curah hujan lebat dilain tempat, antara lain di Kecamatan Margadana, Tegal, Jawa Tengah, petani jadinya memanen dini bawang merah yang terendam banjir. Di kota Tegal dan Kabupaten Brebes, banjir merendam sedikitnya 450 hektar tanaman bawang; dan petani mengalami kerugian mencapai Rp50 juta per-hektar (Kompas, 2/1/2020). Secara iman Kristiani, mari kita mendaku, apapun yang terjadi, TUHAN menyertai kita (Mat. 28:20b).
     
Saudara-saudari, nas renungan di penghujung suasana Natal dalam rangka menyambut Minggu Epifani ini, diacu dari Injil Yohanes yang diawali dengan sebentuk penegasan bahwa: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”. Lalu kemudian, “….Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yoh. 1:1,14). Ini adalah Kabar Gembira (Injil) dan sekaligus menjadi berita Natal dan Epifani versi pemberitaan rasul Yohanes kepada orang beriman.
     
Allah yang tadinya dipahami sebagai yang tidak kelihatan dan tidak mungkin dihampiri manusia dengan kemampuannya sendiri, namun kemudian Allah sendiri yang berinisiasi memperkenalkan dan menampakkan diri-Nya kepada manusia dan memberi diri-Nya untuk dikasihi setelah Allah lebih dulu mengasihi manusia dan dunia. Itu berarti ada pergeseran dan dinamika dari cara Allah yang tadinya tidak kelihatan, jauh, tak terhampiri, dan tersembunyi (Deus absconditus) menjadi Allah yang kelihatan dan nyata (Deus revelatus) yang memuncak dalam inkarnasi Allah menjadi manusia melalui peristiwa Yesus. Dan inilah kemudian yang dinamakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia (hô lógos sârx egéneto) dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya melalui peristiwa Yesus Kristus yang penuh kasih karunia dan kebenaran.
     
Istilah kasih karunia (Latin: gratia; Ibrani: hén, khèsèd; Ing: grace; Batak: asi ni roha) menjadi bahasa teologis yang sangat populer – muncul 155 kali dalam (Alkitab) Perjanjian Baru – terutama dalam pemberitaan rasul Paulus. Alkitab menegaskan bahwa Allah adalah Allah kasih karunia, sumber segala belas-kasih yang tak berkesudahan kepada umat (dan dunia). Puncak belas-kasih-Nya terjadi melalui peristiwa Yesus (Yoh. 1:14,16; Ef. 1:6-7; Rm 5:17-21). Dan sejak dan karena peristiwa Yesus, dimulailah tata kasih-karunia dan kebenaran untuk menggantikan tata Hukum (Taurat) yang ‘mematikan’ orang-orang berdosa. Bersama Yesus, saat ini adalah waktu kasih-karunia (it’s grace time). Dan kini orang-orang beriman menerima keselamatan dengan cuma-cuma hanya dengan mengandalkan kasih karunia dan kebenaran di dalam Kristus yang menghidupkan. Hukum Taurat – melalui Musa – ditempatkan setelah umat/orang beriman mendapat kasih-karunia.
     
Saudara-saudari, ketika dunia masa kini dilanda keprihatinan di mana umat manusia terobsesi mencari pembenaran diri sendiri – bahkan menghalalkan aneka cara kekerasan, ujaran kebencian, intoleransi demi mencapai tujuan, maka marilah kita semakin beriman, semakin berbelas-kasih dan berbela-rasa dan hidup dalam kebenaran Firman TUHAN serta mengandalkan kasih-karunia karena dan hanya di dalam Yesus Kristus. Salam. 

Sumber : hkbpjogja.org

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here